KTI Expo dan Forum diramaikan 100 peserta dari sejumlah provinsi dan kabupaten/ kota di Kawasan Timur Indonesia (KTI).Termasuk sejumlah daerah di Indonesia Barat seperti DKI Jakarta dan Jawa tengah.
Even yang dibuka Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar tersebut berlangsung dari Kamis hingga Minggu (7-10/10). Menurut Mahendra Siregar, KTI Expo dan Forum adalah langkah strategis yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulsel sebagai pintu gerbang KTI. Namun, kegiatan itu saja belum cukup, karena Sulsel harus memosisikan diri bukan hanya di tingkat regional, juga di kawasan Asean termasuk Asia Pasifik. “Makassar ada di tengah-tengah dan punya potensi untuk terus berkembang,” kata Mahendra saat membuka KTI Expo dan Forum 2010 kemarin.
Saat ditanya tentang kemungkinan ekspor KTI melalui Makassar, Mahendra mendukungnya. Dia menilai, kemampuan daya dan kapasitas di daerah harus didukung pemerintah pusat. “Bukan sebaliknya.Apalagi saya melihat gubernur punya visi dan komitmen,” tegasnya. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, pemerintah provinsi tidak bisa melakukan sendiri segala sesuatunya yang berhubungan dengan akselerasi pembangunan di Sulsel, termasuk KTI. “Kami berharap dukungan pemerintah pusat termasuk pihak swasta,”ujar Syahrul. Dia menjelaskan, pembangunan KTI membutuhkan investasi cukup besar. Khusus Sulsel, butuh investasi sebesar Rp93 triliun dalam waktu tiga tahun terakhir.
“Hingga Juni 2010 lalu, nilai tersebut sudah mencapai Rp82 triliun,”jelasnya. Mantan Bupati Gowa ini berharap, dengan KTI Expo, nilai investasi meningkat melalui partisipasi sektor industri dan swasta. “Sehingga benar-benar dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat,” tandasnya. Sementara itu, Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas Kuswiyanto yang hadir dalam even ini menjelaskan, KTI memiliki kekhasan wilayah. “Sumber daya alam melimpah. Namun dihadapkan pada infrastruktur yang minim dan sumber daya manusia yang belum mengelola sumber dayanya,”ungkap Kuswiyanto.
Perencanaan di KTI, lanjutnya, juga memerlukan telaah lebih dalam agar mampu menemukan strategi sesuai dengan kondisi dan karakteristik KTI. “Untuk itu lah penelitian dalam berbagai aspek perlu banyak dilakukan, dan pendataan menjadi suatu kebutuhan yang penting,” pungkasnya.
Jumat, 08 Oktober 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar