Senin, 05 Juli 2010

Giliran Enrekang dan Bone Longsor

Warga melintasi jembatan runtuh sisa longsoran di perbatasan Kabupaten Gowa-Sinjai kemarin. Hujan yang mengguyur tiga hari terakhir di perbatasan tersebut mengakibatkan longsor dan ratusan rumah warga terisolir. Menurut Dolpin bahwa Bencana tanah longsor di Sulsel meluas. Setelah menerjang daerah perbatasan Kabupaten Gowa-Sinjai, giliran wilayah Enrekang dan Bone terkena longsor,kemarin.

Hujan deras yang mengguyur Enrekang sejak akhir pekan lalu, menyebabkan longsor di Dusun Kumadang,Desa Karueng,Kecamatan Enrekang.Akibatnya, jalan yang menghubungkan daerah itu ke ibu kota kabupaten terputus. Sama halnya di Bone,longsor di Lagori,Kecamatan Tellu Limpoe, memutus akses utama jalan yang menghubungkan ke Kecamatan Lappariaja. Jalan terputus sekitar 10 meter. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, hujan deras yang mengguyur wilayah Pegunungan Bawakaraeng, mengakibatkan pergeseran tanah di wilayah perbatasan Gowa-Sinjai yang berada di kaki pegunungan. Hingga kemarin empat kabupaten yang terkena bencana belum melaporkan ada korban jiwa.Sebagian besar hanya merusak fasilitas jalan,jembatan,rumah,dan ternak warga.

Informasi yang diperoleh SeputarIndonesiadi Enrekang,sekitar 70meterbadanjalandiKumandang amblas hingga ke dasar sungai, dengan kedalaman sekitar 50 meter. Arus transportasi terputus total. Akses jalan satu-satunya menuju ibu kota desa Karueng tidak bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Bahkan, warga yang berjalan kaki pun tidak bisa melintas di poros yang tertimbun tanah longsor. Menurut Jupriadi, staf Humas Sekretariat Daerah Enrekang,tanda- tanda akan terjadinya longsor sudah terlihat sejak pekan lalu. Akibat terus diguyur hujan,badan jalan sudah amblas sekitar satu meter. “Saat hujan turun pada Minggu malam, badan jalan itu amblas ke dasar sungai,”kata Jupriadi.

Karena itu, untuk akses masuk dan keluar di Dusun Kumadang yang dihuni ratusan kepala keluarga, terpaksa menggunakan jalur alternatif dengan menyeberangi Sungai Saddan menggunakan perahu. Kalau melihat kondisi topografi, wilayah itu memang rawan longsor.Tebing pegunungan di satu sisi dan di sisi lain jurang terjal yang di bawahnya dilintasi aliran Sungai Saddan.Pada musim hujan arus sungai sangat deras. Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Enrekang Benny Mansyur mengatakan, berdasarkan peninjauan, salah satu cara agar jalur transportasi kembali normal adalah harus membuka jalur baru melewati bukit.

“Kondisi jalan yang terkena longsor sudah sangat terjal dan sulit diperbaiki kembali.Kami segera menurunkan alat berat ke lokasi paling lambat besok,” kata Benny. Pekan lalu bencana alam tanah longsor juga terjadi di poros Enrekang-Kaluppini.

Masih Terputus

Hingga kemarin jalan provinsi yang menghubungkan Gowa-Sinjai masih terputus total. Jalan utama yang menghubungkan kedua kabupaten belum bisa dilalui kendaraan karena ribuan matriks ton material masih menimbun jalan, jalan amblas, dan terputusnya beberapa jembatan. Di Sinjai Barat,warga terpaksa berjalan kaki untuk menembus wilayah longsoran.Jalan yang tertimbun longsor, yakni di Kelurahan Tassililu, Manipi, Bontosalama (lima titik longsor), dan Desa Turungan Baji. Selain itu, sedikitnya empat jembatan terputus, yakni jembatan Gantung Laha-laha dan Jembatan Cenre di Desa Terasa, jembatan di perbatasan Desa Barania dan Desa Gunung Perak (terletak tepat di kaki Gunung Bawakaraeng), serta jembatan Biringmingko.

Hingga siang kemarin baru dua titik longsoran yang bisa dibersihkan dari material, yakni Desa Arabika (Poros Sinjai–Gowa) sekitar 300 meter dan di Desa Bontosalama menggunakan ekskavator bantuan investor dari Norwegia, yang tengah mengerjakan proyek PLTA Manipi. “Hanya jembatan di perbatasan Desa Barania dan Gunung Perak tidak putus total. Sebab, hanya sebagian badan jembatan yang tergerus longsor, sementara yang lainnya putus total,”ungkap Camat Sinjai Barat Agung Budi Prayogo. Agung menambahkan, di Desa Bontosalama ada lima titik lokasi longsor.

Meskipun tidak ada korban jiwa, banyak kerugian material milik warga,yakni satu unit rumah warga di Desa Terasa tertimbun longsor dan sekitar 15 ekor sapi milik warga hanyut di sungai. Kasubag Humas dan Protokol Pemkab Sinjai Irwan Suaib mengatakan, mereka masih melakukan pendataan kerugian. Untuk sementara diperkirakan mencapai miliaran rupiah karena banyak infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang rusak. Terpisah,Kapolres Bone AKBP Zarialdi mengatakan, hingga kemarin warga Langori,Kecamatan Tellu Limpoe di Bone, bergotongroyong membersihkan timbunan tanah yang bercampur batu dari badan jalan.

Waspada

Wakil Bupati Gowa Abd Razak Badjidu mengingatkan masyarakat di Kecamatan Tombolopao agar tetap waspada ”Curah hujan masih tinggi. Segera mengungsi jika mengetahui kondisi permukiman berada di wilayah yang kemiringannya tergolong sangat rawan,’’ terang Razak Badjidu kemarin. Senada dengan Razak, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo juga mengimbau masyarakat yang berada di daerah potensial longsor, khususnya yang bermukim di lereng-lereng gunung untuk waspada. Curah hujan yang masih tinggi disinyalir berpotensi memicu terjadinya longsor Terkait longsor yang terjadi di Kabupaten Sinjai dan Gowa,Syahrul mengatakan, Pemprov telah mengirimkan tim beserta alat berat dari Dinas Bina Marga.

”Alat berat sudah dikirimkan untuk membersihkan material yang menutupi akses jalan. Beruntung, longsor yang terjadi hanya menimpa jalan dan tidak pada daerah permukiman,” jelasnya di Hotel Sahid,kemarin. Selain di wilayah itu, warga di Kecamatan Parigi, tepatnya di wilayah Lengkese serta Manimbahoi, juga diharapkan tetap memantau situasi. Pasalnya, dua wilayah ini berada di kawasan lereng Gunung Bawakaraeng yang pada tahun 2004 silam mengalami longsor hebat. Informasi terakhir dari Tombolopao, seperti dikabarkan Camat Andi Sura Suaib kemarin via telepon, tiga desa di Tombolopao yang terkena imbas longsor, masing- masing Ballasuka, Mamampang, dan Tabbingjai, aksesnya sudah berangsur normal.

“Hingga jam satu siang tadi sudah sekitar 60% lumpur berhasil diangkat,mudah-mudahan material longsor ini bisa bersih total di atas badan jalan sebelum besok,’’ jelas Andi Sura Suaib yang rutin memantau kondisi di wilayah longsor tersebut. Beberapa fasilitas yang rusak total antara lain lima jembatan,jalan putus,dan unit rumah. Kepala Divisi Data dan Informasi Badan Meteorologi Bandara Hasanuddin Makassar Hanafi Hamzah membenarkan banyaknya wilayah Gowa yang diidentifikasi rawan longsor. Menurut Hanafi, Gowa memiliki spesifikasi tanah yang tidak rata yang terdiri atas perbukitan dan dataran rendah sehingga kondisi tanah yang seperti ini sangat rentan terjadi longsor.

Menurut informasi yang diterima Indonesia Type Approval bahwa Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, selain Tombolopao, daerah lain yang rawan longsor antara lain Desa Parigi dan Desa Majannang (Kecamatan Tinggimoncong), Desa Sicini (Kecamatan Bontolempangang), Desa Pallantikang (Kecamatan Manuju), dan Desa Mangempang (Kecamatan Bungaya).

0 komentar:

Copyright © 2011 Aris All rights reserved