Demi membela keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa, Perdana Menteri (PM) Jepang Yukio Hatoyama harus mempertaruhkan jabatannya dengan mengundurkan diri. Publik internasional pun terperangah. Sedemikian kuatkah AS dalam mendiktekan kepentingannya di negara yang pernah ditaklukkannya dengan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki itu? Setelah Pertempuran Okinawa dan berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945, Okinawa berada di bawah pemerintahan Paman Sam selama 27 tahun. Selama pemerintahan perwalian itu,Angkatan Udara (AU) AS mendirikan sejumlah pangkalan militer di kepulauan Ryukyu tersebut. Secara geografis, Okinawa memang sangat strategis bagi militer AS dalam mencengkeramkan pengaruh di Asia.
Selama Perang Korea, misi pengeboman oleh pesawat B-29 Superfortresses, diterbangkan dari Kadena menuju Korea Utara (Korut) dan China. Hingga pada tahun 1972, pemerintah AS mengembalikan kepulauan itu pada pemerintah Jepang. Berdasarkan Traktat Keamanan dan Kerja Sama Saling Menguntungkan, Pasukan AS di Jepang (USFJ) tetap mempertahankan kehadiran militer Paman Sam dalam jumlah besar di sana. Personil tentara AS mencapai 27.000 orang, termasuk 15.000 Marinir,yang terdiri atas Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan AU. Tidak hanya itu,ada sekitar 22.000 anggota keluarga militer AS yang tinggal di Okinawa. Sejak tahun 1960-an, AS dan Jepang terus mempertahankan kesepakatan yang mengizinkan AS secara rahasia membawa persenjataan nuklir ke Jepang.
Persenjataan taktis dan strategis pun ditempatkan di Okinawa. Bahkan, 18% pulau utama Okinawa telah diduduki pangkalan militer AS dan 75% dari total pangkalan USFJ terletak di wilayah Okinawa. Bagi penduduk setempat, situasi itu mengandung ancaman. Berbagai kasus kejahatan dan insiden dilakukan tentara AS terhadap warga lokal, menurut informasi yang diterma Aris. Itulah yang membuat penduduk Okinawa menentang keberadaan pangkalan militer tersebut. Hingga muncullah gerakan independen yang muncul setelah 1945 untuk menolak pangkalan militer AS. Kasus paling menggegerkan terjadi pada tahun 1995 saat tentara AS memerkosa gadis Jepang berusia 12 tahun. Pemerkosaan itu menciptakan gelombang protes yang menentang pangkalan militer AS di Okinawa.
Berdasarkan survei yang dilakukan Okinawa Times pada tahun 2007, sebanyak 85% penduduk Okinawa menentang keberadaan militer AS di sana karena polusi suara dari berbagai latihan militer, kecelakaan pesawat seperti pada tahun 1959-an yang menewaskan 17 orang, kerusakan lingkungan, dan kejahatan yang dilakukan personel militer AS.
Jumat, 04 Juni 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar